Pembelajaran Fisika dengan Model Pengajaran Inkuiri untuk
Meningkatkan Self-Efficacy dan Hasil
Belajar Siswa SMA Kelas X Materi Momentum, Impuls dan Tumbukan

Mamim Zumroatun1), Woro Setyarsih2),
dan Lydia Rohmawati

1)Mahasiswa Program Studi Pendidikan Fisika,
FMIPA, UNESA, Alamat e-mail: [email protected]

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

2)Dosen Jurusan Fisika, FMIPA, UNESA, Alamat
e-mail: [email protected]

 

Abstrak

Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui keterlaksanaan pengajaran inkuiri, self-efficacy siswa, hasil belajar
siswa, dan hubungan antara self-efficacy
dengan hasil belajar siswa melalui penerapan pengajaran inkuiri pada materi
momentum, impuls dan tumbukan. Metode dalam penelitian ini adalah “One Group Pre-Test and Post-Test Design”. Instrumen
yang digunakan antara lain: lembar keterlaksanaan pembelajaran, lembar angket self-efficacy, lembar pengamatan
perilaku self-efficacy, lembar tes
hasil belajar. Subjek penelitian ini sebanyak 
79 siswa kelas X di SMAN 19 Surabaya. Hasil penelitian didapatkan: (1)
Keterlaksanaan pembelajaran menggunakan model inkuiri telah terlaksana dengan
persentase rata-rata sebesar 74% berkategori tinggi; (2) 77% siswa memiliki self-efficacy sangat tinggi saat post-test, nilai rata-rata perilaku self-efficacy juga mengalami peningkatan
pada setiap pertemuannya; (3) berdasarkan analisis n-gain diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dengan kategori
sedang; (4) terdapat hubungan positif antara self-efficacy dengan hasil belajar dengan koefisien regresi sebesar
1,539.

Kata-kata kunci:
Inkuiri, Self-efficacy, hasil
belajar, momentum, impul dan tumbukan.

  

Abstract

This study aims to determine the implementation of inquiry
teaching model, student self-efficacy, student learning outcomes, and
relationship between self-efficacy with students’ learning outcomes through the
application of inquiry teaching on momentum, impulse and collision materials.
The methode in this study is “One Group Pre-Test and Post-Test Design”. Instrument used are enforceability of
learning sheet, self-efficacy questionnaires, self-efficacy behavior
checklists, test result sheet. The
subjects of this study were 79 students of class X at SMAN 19 Surabaya. The
results of this study indicated that: (1) The implementation of learning using
inquiry model has been accomplished with an average percentage of 74% in high
category; (2) 77% students have very high self-efficacy during post-test, the average value of
self-efficacy behavior also increased at each meeting; (3) Based on the
analysis of n-gain obtained improved student learning outcomes with mwdium
category; (4) there is a positive relationship between self-efficacy and
learning outcome with regression coefficient of 0,674.

Keyword: Inquiry,
Self-efficacy, learning outcome, momentum, impulse and collision.

 

PENDAHULUAN

Penerapan Kurikulum 2013 saat ini
menuntut pembelajaran yang berbasis scientific
approach yang merupakan konsep dasar dalam melatarbelakangi perumusan
metode mengajar dengan karakteristik yang ilmiah. Permendikbud Nomor 65 Tahun
2013 tentang Prinsip Pembelajaran yang diterapkan salah satunya adalah mengubah
dari pendekatan tekstual menjadi pendekatan berbasis masalah, berbasis proyek, discovery, dan inkuiri.  Model
pengajaran inkuiri merupakan proses pembelajaran dimana siswa mengikuti metode
dan praktik dengan profesional untuk membangun pengetahuannya. Dalam model
pengajaran inkuiri siswa terlibat di dalam pembelajaran, merumuskan pertanyaan,
menginvestigasi, dan membangun sebuah pemahaman baru (Pedaste, et al, 2015;
Branch & Oberg, 2004). Dengan menerapkan inkuiri, Kurikulum 2013
menghendaki student centered dalam pembelajaran dimana guru diharuskan untuk
memperhatikan perbedaan individu setiap siswa (Permendikbud Nomor 103 Tahun
2014; Puspita, 2016). Perbedaan individu siswa dapat berupa kognitif, afektif,
psikologis, dan lain sebagainya (Makmun, 2000; Santrock, 2009). Adapun beberapa
faktor psikologis dalam diri siswa antara lain: self-efficacy, motivasi, dan lain sebagainya (Santrock, 2009).

Banyak studi yang membahas
tentang self-efficacy didalam
pendidikan sains. Self-efficacy dalam
sains sangat mempengaruhi pembelajaran sains, pilihan sains, jumlah usaha yang
diberikan, dan ketekunan sains, selain itu self-efficacy juga memainkan peran
utama dalam proses pengambilan keputusan siswa saat memilih sebuah profesi
(Tenaw, 2013; Dou, 2017; Bernasconi, 2017). Self-efficacy
tidak hanya sumber informatif kepada siswa, tetapi juga menghasilkan self-regulatory, seperti meningkatkan
belajar untuk mendapatkan nilai yang lebih baik lagi, jika self-efficacy siswa rendah sangat berpengaruh pada kegagalan dalam
pembelajaran fisika khusunya (Nissen dan Shemwell, 2016; Suprapto et al, 2017).

Pada dasarnya hakekat fisika,
yakni sebagai proses, produk, dan sikap perlu dijadikan sebagai dasar pemikiran
dalam pencapaian tujuan pembelajaran fisika, salah satunya dapat ditandai
dengan adanya hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar siswa pada
aspek pengetahuan bisa ditentukan melalui nilai yang diberikan guru terhadap
siswa sebagai hasil proses pembelajaran fisika di sekolah.

Untuk dapat menumbuhkan atau
meningkatkan self-efficacy dan hasil
belajar siswa diperlukan model pengajaran yang sesuai, salah satunya adalah
model pengajaran inkuiri. Rahayu dan Syarief (2015) menggunakan model
pengajaran inkuiri untuk meningkatkan self-efficacy
siswa dalam pembelajaran kimia, diperoleh nilai rata-rata self-efficacy mengalami peningkatan. Hal ini diperkuat oleh Jansen,
et al (2015) yang menemukan bahwa self-concept
dan self-efficacy merupakan dua
motivasi yang paling penting dari pendidikan, self-concept lebih dipengaruhi oleh prestasi teman sebaya,
sedangkan self-efficacy sangat
dipengaruhi oleh inquiry based learning.
Kock, et al (2015) dalam penelitiannya yang bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman konsep siswa dengan menggunakan model pengajaran inkuiri, diperoleh
pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan. Berdasarkan penelitian tersebut self-efficacy dan hasil belajar dengan
model pengajaran inkuiri sangat diperlukan dalam pembelajaran fisika, guna
menumbuhkan rasa percaya diri siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan dan
meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran fisika khusunya.

Berdasarkan uraian di atas, maka
peneliti melakukan penelitian dengan judul “Pembelajaran Fisika dengan Model
Pengajaran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-Efficacy
dan Hasil Belajar Siswa SMA Kelas X Materi Momentum, Impuls dan Tumbukan”.

 

METODE

Jenis penelitian yang digunakan adalah pre experimental design dengan
menggunakan dua kelas yang diberi perlakuan sama. Subjek dalam penelitian ini
sebanyak 79 siswa kelas X SMAN 19 Surabaya. Penelitian dilakukan pada semester
genap 2016/2017. Desain penelitian ini adalah “One Goup Pre-Test and Post-Test Design”

O1            X             O2

 

 

Keterangan:

O1   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa sebelum perlakuan (pre-test)

X   = Perlakuan (pembelajaran dengan model pengajaran inkuiri)

O2   = Pengukuran self-efficacy dan hasil belajar siswa setelah perlakuan (post-test)

      Pelaksanaan penelitian ini mempunyai tiga
tahapan, yakni tahap awal, tahap pelaksanaan, dan tahap akhir. Penelitian ini
terdapat perangkat dan instrumen yang digunakan, antara lain yaitu silabus,
RPP, handout, LKS, lembar observasi
keterlaksanaan, lembar angket self-efficacy,
lembar pengamatan perilaku self-efficacy,
dan lembar tes.

      Peningkatan self-efficacy siswa diukur dengan menggunakan instrumen angket
sebagai instrumen utama dan lembar pengamatan perilaku self-efficacy sebagai instrumen pendukung. Peningkatan hasil
belajar siswa diukur melalui lembar tes yang diberikan saat pre-test dan
post-test. Data-data yang diperoleh kemudian dianalisis sesuai dengan teknik
analisis yang telah ditentukan.

      Data self-efficacy
dianalisis berdasarkan dimensi-dimensinya yakni dimensi magnitude, strength, dan generality.
Data hasil belajar siswa dianalisis dengan uji n-gain, kemudian untuk melihat apakah peningkatan hasil belajar
siswa signifikan atau tidak dilakukan uji-t satu pihak. Untuk menguji hipotesis
apakah model pengajaran inkuiri mampu meningkatkan self-efficacy dan hasil belajar siswa maka dilakukan uji-t
berpasangan. Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui hubungan
antara self-efficacy dengan hasil
belajar siswa.

      Analisis butir soal dengan menggunakan 4
kriteria yaitu: validitas, reliabilitas, taraf kesukaran dan daya pembeda
(Arikunto, 2010). Berdasarkan uji coba soal diperoleh 19 soal valid, dan semua
soal reliabel dengan hasil perhitungan r11?rtabel yakni
0,882?0,334. Dengan mempertimbangkan 4 kriteria tersebut total soal yang
digunakan untuk evaluasi adalah 19 soal dari 22 soal yang diuji cobakan.

               

HASIL DAN PEMBAHASAN

      Berdasarkan
hasil analisis diperoleh, keterlaksanaan kegiatan belajar mengajar yang
menerapkan model pengajaran inkuiri didapat persentase rata-rata keterlaksanaan
dikedua pertemuan sebesar 74% dengan kategori tinggi.

      Analisis data self-efficacy diperoleh melalui dua instrumen yakni angket self-efficacy dan pengamatan perilaku self-efficacy. Hasil penelitian
menunjukkan self-efficacy siswa X-MIA
2 yang berjumlah 40 siswa, 77% siswa tergolong dalam self-efficacy sangat tinggi, dan hanya 23% siswa termasuk dalam
kriteria tinggi saat post-test, hasil
ini mengalami peningkatan dari hasil pre-test,
seperti yang terlihat dalam Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Diagram Self-Efficacy Siswa X-MIA 2

         Berdasarkan diagram di atas,
menunjukkan adanya peningkatan rata-rata self-efficacy
siswa. Untuk lembar pengamatan perilaku self-efficacy
kelas X-MIA 2 rata-rata mengalami peningkatan, pada pertemuan pertama sebesar
71 dengan kriteria tinggi, sedangkan pada pertemuan kedua sebesar 85 dengan
kriteria sangat tinggi, seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu dan
Syarief (2015) bahwa self-efficacy
siswa mengalami peningkatan setelah melalui penerapan model pengajaran inkuiri.
Selain secara individual, nilai angket self-efficacy
juga dilihat dari nilai rata-rata tiap dimensi, yakni dimensi magnitude, strength, generality. Ketiga
dimensi tersebut mengalami peningkatan saat pre-test
dan post-test. Berikut akan
ditunjukkan diagram rata-rata nilai self-efficacy
tiap dimensi:

Gambar 2. Diagram peningkatan self-efficacy tiap dimensi X-MIA 2

         Dalam kelas
X-MIA 2 terdapat satu anak yang tidak mengalami peningkatan self-efficacy saat pre-test dan post-test
maupun dalam pengamatan perilaku self-efficacy
tiap pertemuannya, hal ini bisa terjadi dikarenakan selama proses pembelajaran
siswa tersebut tidak antusias dengan pelajaran fisika. Siswa dengan self-efficacy rendah pada pembelajaran
dapat menghhindari banyak tugas belajar, khususnya yang menantang (Santrock,
2009:216).

Gambar 3. Diagram Self-efficacy siswa X-MIA 6

Untuk
self-efficacy siswa X-MIA 6 yang
ditunjukkan oleh Gambar 3. mengalami peningkatan, dari 39 siswa saat post-test yang termasuk dalam kategori
sangat tinggi sebanyak 56% dan hanya 44% yang termasuk dalam kriteria tinggi.
Hasil ini mengalami peningkatan dibandingkan dengan hasil pre-test, seperti yang diungkapkan Jansen, et al (2015) jika self-efficacy lebih dipengaruhi oleh
kesempatan belajar berbasis inkuiri. Namun siswa dengan nomor absen 8, 12, dan
13 mengalami penurunan saat pre-test dan
post-test, hal ini bisa terjadi karena
ada beberapa faktor penyebab seperti keadaan fisiologis, dan emosional siswa,
kecemasan yang terjadi dalam diri siswa ketika melakukan tugas sering diartikan
sebagai kegagalan (Bandura, 1997:79). Selain secara individual, nilai angket self-efficacy juga dilihat dari nilai
rata-rata tiap dimensi, yakni dimensi magnitude,
strength, generality. Ketiga dimensi tersebut mengalami peningkatan saat pre-test dan post-test. Berikut akan ditunjukkan diagram rata-rata nilai self-efficacy tiap dimensi:

Gambar
4. Diagram peningkatan self-efficacy
tiap dimensi X-MIA 6

         Pada lembar
pengamatan perilaku self-efficacy
X-MIA 6 pertemuan pertama diperoleh nilai rata-rata sebesar 64 dengan kriteria
tinggi, sedangkan untuk pertemuan kedua sebesar 83 dengan kriteria sangat tinggi.
Untuk siswa yang mengalami penurunan saat pre-test
dan post-test tidak terjadi penurunan
saat pengamatan perilaku, hanya siswa nomor absen 8 yang mendapat nilai tetap
disetiap pertemuannya. Hal ini dikarenakan saat proses pembelajaran siswa nomor
absen 12 dan 13 termasuk siswa yang aktif, seperti berani meyampaikan pendapat,
dan berani bersaing dengan teman-temannya. Dengan demikian self-efficacy juga penting diperhatikan dalam pembelajaran fisika
(Nissen dan Shemwell, 2016).

         Hasil
belajar siswa setelah diterapkan model pengajaran inkuiri dianalisis dengan n-gain dan uji-t satu pihak dengan
menggunakan hasil pre-test dan post-test. Berikut adalah gambaran umum
hasil belajar siswa setelah dianalisis dengan n-gain score:

 

 

 

 

Gambar 5. Diagram hasil belajar
siswa

         Berdasarkan
Gambar 5 di atas terlihat bahwa baik siswa X-MIA 2 maupun X-MIA 6 rata-rata
mempunyai hasil belajar berkategori sedang. Untuk hasil belajar berkategori
tinggi yang paling banyak ada di kelas X-MIA 2 yakni sebesar 45% dibandingkan
dengan X-MIA 6 yang hanya 26%. Sedangkan untuk rata-rata nilai n-gain untuk siswa X-MIA 2 dan X-MIA 6
berturut-turut yaitu 0,65 dan 0,54. Untuk memastikan apakah peningkatan hasil
belajar siswa di kedua kelas signifikan atau tidak, maka dilakukan uji-t satu pihak
didapatkan thitung sebesar 4,952 dan ttabel sebesar 1,66,
hal ini berarti thitung ? ttabel sehingga peningkatan
hasil belajar siswa di kedua kelas signifikan.

         Selain itu hasil belajar siswa juga
dianalisi menggunakan uji-t berpasangan guna melihat apakah model pengajaran
inkuiri mampu meningkatkan atau menumbuhkan hasil belajar atau tidak. Dari
hasil uji-t berpasangan diperoleh nilai thitung  pada kelas X-MIA 2 dan X-MIA 6 secara
berturut-turut adalah sebesar 16,67 dan 13,71, sedangkan nilai ttabel dengan
taraf signifikan 0,05 adalah 2,02, dengan demikian dapat dinyatakan bahwa model
pengajaran inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar maupun self-efficacy siswa, hal ini sesuai dengan penelitian Mustachfidoh,
dkk (2013) bahwa siswa yang mengikuiti pembelajaran inkuiri lebih unggul
dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran langsung.

         Untuk mengetahui apakah self-efficacy memberikan konstribusi
terhadap hasil belajar siswa maka dilakukan analisis regresi linier
sederhanadan diperoleh a sebesar
-44,461 dan b sebesar 1,539 dengan
N=40 untuk X-MIA 2, sedangkan untuk X-MIA 6 diperoleh a sebesar -62,916 dan b
sebesar 1,676 dengan N=39. Apabila koefien regresi (b) bernilai positif maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
yang positif antara self-efficacy
dengan hasil belajar siswa. Hal ini sesuai dengan penelitian Lindstrom dan
Sharma (2011) bahwa self-efficacy
mempengaruhi prestasi akademik siswa yang belajar fisika. Sama halnya dengan
hasil penelitian Suprapto, et al (2017) yang menyatakan bahwa self-efficacy tidak hanya sumber
informatif kepada siswa, namun self-efficacy
juga merupakan prediktor prestasi akademik. Besar kecilnya konstribusi self-efficacy terhadap hasil belajar
siswa pada kelas X-MIA 2 sebesar 50,80%  self-efficacy memberikan konstribusi
terhadap hasil belajar dan 49,20% oleh faktor lain, sedangkan pada kelas X-MIA
6 self-efficacy berkonstribusi
sebesar 41,46% dan 58,52% oleh faktor lain. Faktor lain yang mempengaruhi hasil
belajar siswa antara lain motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan
kebiasaan belajar ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis (Nana
Sudjana, 2009:39).

PENUTUP

Simpulan

         Berdasarkan data hasil penelitian dan pembahasan yang
dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran dengan model
pengajaran inkuiri pada materi momentum, impuls dan tumbukan telah terlaksana
dengan baik sesuai dengan RPP yang telah dibuat. Hal ini dibuktikan dengan
persentase rata-rata yang dicapai sebesar 74% dan termasuk dalam kategori
tinggi. Self-efficacy siswa X-MIA 2
menunjukkan 77% siswa memiliki self-efficacy
sangat tinggi, dan 23% siswa memiliki self-efficacy
tinggi, sedangkan untuk siswa X-MIA 6 56% siswa memiliki self-efficacy sangat tinggi, dan 44% siswa memiliki self-efficacy tinggi. Hasil belajar siswa
pada materi momentum, impuls dan tumbukan setelah diterapkan model pengajaran
inkuiri mengalami peningkatan secara signifikan antara pre-test dan post-test.
Berdasarkan analisis n-gain diperoleh
hasil peningkatan hasil belajar siswa dikedua kelas berkategori sedang.
Berdasarkan uji-t berpasangan model pengajaran inkuiri dapat meningkatkan self-efficacy dan hasil belajar siswa.
Terdapat hubungan positif sebesar  1,539
pada kelas X-MIA 2 dan 1,676 pada kelas X-MIA 6 antara self-efficacy dengan hasil belajar siswa setelah diterpakan model
pengajaran inkuiri.

 

Saran

Dengan
memperhatikan hasil penelitian di atas agar kegiatan belajar fisika lebih baik
dan efektif bagi siswa, maka saran yang dapat diberikan adalah: penerapan model
pengajaran inkuiri mampu digunakan untuk meningkatkan self-efficacy dan  hasil
belajar siswa, untuk itu perlu diterapkan juga pada materi fisika lain yang
memiliki karakteristik cocok dengan model pengajaran inkuiri; setelah penerapan
model pengajaran inkuiri sebanyak 50,80% self-efficacy
memberikan konstribusi terhadap hasil belajar, sehingga penelitian dapat
dikembangkan lebih luas lagi untuk diteliti mengenai motivasi siswa dalam
belajar, atau kemampuan siswa dalam berkomunikasi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 Arikunto,
Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian:
Suatu Pendekatan Praktik. Jakart: Rineka Cipta

Bandura, A. 1997. Self-Efficacy: The Exercise of Control. New
York, NY: Freeman

Branch, Dr. Jennifer. and Oberd, Dr. Dianne.
2004. Focus on Inquiry. Canada:
Alberta Learning

Dou, Remy. 2017. The Interactions of Relationships, Interest,
and Self-Efficacy in Undergraduate Physics. FIU Electronic Theses and Dissertations. 3228. Florida
International University. http://digitalcommons.fiu.edu/etd/3228  (online) (diunduh pada 27 September 2017)

Feantoby, Amy.
2012. The Use of the ‘Teaching as Inquiry
Model’ to Develop Students’ Self-Efficacy in Literature Response Essay Writing.
Kairaranga – Volume 13, ISSUE 1: 2012 Tersedia https://Eric.Ed.Gov/?Id=EJ976662
(diunduh pada 2 Desember 2016)

Jansen, Malte. Et Al. 2015. Students’ Self-Concept and
Self-Efficacy in the Sciences: Differential Relations to Antecedents and
Educational Outcomes.
Contemporary Educational Psychology 41 (2015) 13–24. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 2
Desember 2016)

Kock,
Zeger-Jan. et al. 2015. Creating a Culture of Inquiry in the Classroom While
Fostering an Understanding of Theoretical Concept in Direct Current Electric Circuit:
A Balance Approach. International Journal of Science and Mathematics
Education, 13(1), 45-69. (online)(diunduh pada 7 Maret 2017).

Lindstrom,
Christine. and Sharma, Manjula D. 2011. Self-Efficacy of First Year
University Physics Student: Do Gender and Prior Formal Instruction in Physics
Matter?”. International Journal of Innovation in Science and Mathematics
Education, 19(2), 1-19. (online)(diunduh pada 1 Maret 2017).

Makmun, H. Abid Syamsudin. 2000. Psikologi Kependidikan: Perangkat Sistem Pengajaran Modul. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.

Mustachfidoh,
Dkk. 2013. Pengaruh Model Pembelajaran
Inkuiri Terhadap Prestasi Belajar Biologi Ditinjau dari Inteligensi Siswa SMA
Negeri 1 Srono. E-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan
Ganesha. (Online) Volume 3 Tahun 2013. (diunduh pada 2 Desember 2016).

Nana
Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses
Belajar Mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Nissen,
Jayson M. Et Al. 2016. Gender, Experience, and Self-Efficacy in Introductory
Physics. Physical Review Physics
Education Research 12, 020105.

Pedaste,  Margus. Et Al. 2015. Phases of Inquiry-Based Learning:
Definitions and the Inquiry Cycle. Educational
Research Review 14 (2015) 47–61. Tersedia: http://www.Sciencedirect.Com/ (diunduh pada 9 Desember 2016 ).

Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2013
Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah (Salinan)

Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 103 Tahun 2014
Tentang Pembelajaran Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah (Salinan)

Puspita, Wita Ratna. 2016. Upaya Meningkatkan Self-Efficacy Melalui
Midle Learning Cycle 5E pada Pokok Bahasan Perbandingan. Jurnal Pendidikan,
(Online), ISBN. 978-602-73403-1-2,
(diunduh pada 9 Desember 2016).

Rahayu, Setyorini Puji. dan
Syarief, Sri Hidayati. 2015. Penerapan
Model Pembelajran Inkuiri untuk Meningkatkan Self-Efficacy Siswa pada Materi
Pokok Laju Reaksi Kelas XI-MIA di SMA Muhammadiyah 4 Sidayu Gresik.
(Online) Unesa Journal Of
Chemical Education Vol.4, No.1, Pp. 49-55, January 2015 ISSN: 2252-9454
(diunduh pada 4 Januari 2017)

Suprapto,
Nadi. et al. 2017. Conception of Learning
Physics and Self-Efficacy Among Indonesian University Student. Journal of
Baltic Science Education. ISSN 1648-3898. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).

Tenaw,
Yazachew Alemu. 2013. Relationship
Between Self-Efficacy, Academic Achievement and Gender in Analitycal Chemistry
at Debre Markos College of Teacher Education. AJCE, 2013, 3(1). ISSN
2227-5835. (online) (diunduh pada 1 Maret 2017).

Categories: Articles

x

Hi!
I'm Garrett!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out