Over Namun jika ditelusuri lebih jauh mengenai dampak

Published by admin on

Over
Fishing dan Utang Ekologis yang Belum Tuntas

 

Lingkungan dunia saat
ini tengah menghadapi banyak isu kompleks, mulai dari masalah polusi, perubahan
iklim, krisis makanan, over population,
hingga over fishing. Over fishing atau penangkapan ikan
berlebih merupakan bentuk eksploitasi berlebihan terhadap populasi ikan. Over fishing adalah salah satu isu lingkungan
yang yang kurang diperhatikan oleh dunia. Hal tersebut disebabkan oleh jarangnya
masyarakat umum mendengar tentang isu ini. Selain itu, jumlah stok ikan di
pasaran yang terlihat melimpah ruah menciptakan pola pikir di masyarakat yang
membuat mereka menganggap bahwa masalah over
fishing bukanlah masalah yang serius. Isu mengenai over fishing memang kalah populer di kalangan masyarakat jika
dibandingkan dengan isu lingkungan lainnya seperti pemanasan global. Namun jika
ditelusuri lebih jauh mengenai dampak dan hubungannya dengan masa yang akan
datang, sesungguhnya over fishing
adalah masalah besar yang dapat berdampak pada isu-isu lainnya, mulai dari
krisis makanan hingga penurunan populasi manusia.

Secara sederhana, over fishing dapat diartikan sebagai kegiatan
penangkapan ikan secara berlebihan sehingga mengganggu keseimbangan ekosistem. Lebih
jelasnya, over fishing atau
penangkapan ikan secara berlebihan adalah sebuah situasi dimana manusia
menangkap terlalu banyak ikan atau biota laut lainnya dalam jumlah besar dan
dalam waktu yang lebih cepat dari waktu yang diperlukan alam untuk mengembalikan
kondisinya seperti semula. Dengan kata lain, over fishing terjadi ketika manusia menangkap ikan lebih dari
kapasitas yang bisa tergantikan atau teregenerasi populasinya secara alami oleh
lingkungan. Hal ini mengakibatkan terjadinya degradasi terhadap lautan dan
membuat perikanan global menjadi tidak berkelanjutan (unsustainable).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Perburuan terhadap ikan
ini tidak hanya dilakukan dengan tujuan untuk konsumsi manusia saja, melainkan
juga untuk tujuan hiburan, seperti untuk taman wisata laut. Namun faktanya
memang jenis ikan yang paling banyak ditangkap adalah stok ikan komersial yang
menjadi makanan populer masyarakat pada umumnya, seperti ikan sarden, makerel,
tuna, dan lain sebagainya.

Dalam beberapa dekade
terakhir, banyaknya industri perikanan besar yang bermunculan, berkembangnya
teknologi, munculnya peralatan canggih dan modern, serta kebutuhan manusia akan
uang membuat ikan menjadi semakin mudah ditangkap. Sayangnya, ketika mereka
melakukan penangkapan ikan secara besar-besaran, stok ikan mulai habis sehingga
baik nelayan biasa maupun industri perikanan besar harus menambah jangkauannya
hingga ke laut yang lebih dalam dan lebih jauh demi mendapatkan ikan. Para ilmuwan
dan peneliti bahkan melaporkan bahwa populasi ikan di bumi telah jatuh ke
tingkat yang dapat disebut krisis. Yang lebih buruk lagi, ekosistem laut pun
ikut terganggu akibat situas ini.

Daerah laut yang telah
mengalami over fishing dapat
diketahui dengan memperhatikan beberapa ciri khusus tertentu, antara lain yaitu
hasil tangkapan akan semakin berkurang, terutama tangkapan ikan berukuran
besar, selain itu para nelayan yang biasanya bisa menangkap ikan di daerah
tersebut berubah menjadi semakin jauh jarak daerah tangkapannya, serta tingkat
kejernihan air (salinitas) di tempat tersebut menurun karena rusaknya terumbu
karang. Jika digolongkan berdasarkan jenis kerusakan yang ditimbulkannya, over fishing dapat dibedakan menjadi over fishing yang menganggu tingkat
pertumbuhan ikan, over fishing yang
mengganggu regenerasi atau pembaharuan populasi ikan, economic over fishing yang mengincar ikan-ikan atau biota laut
langka yang hampir punah dan berdaya jual besar, serta over fishing yang merusak ekosistem daerah tangkapan.

Jika berbicara tentang
isu over fishing, maka poin
terpenting yang menjadi kata kunci dalam kasus ini tentu saja adalah
penangkapan ikan. Penangkapan ikan sesungguhnya bukanlah sebuah masalah. Sejak
zaman dahulu, aktivitas penangkapan ikan telah menjadi budaya maritim dari
manusia di bumi sebagai penghuni planet yang lebih dari 70 persennya ditutupi
oleh air, dimana 97% dari air tersebut adalah air asin di samudera yang menjadi
rumah bagi populasi makhluk laut terutama ikan. Secara naluriah, penangkapan
ikan mulanya dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhan pangannya, dan seiring
berkembangnya zaman, penangkapan ikan juga mulai dilakukan dengan tujuan untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi. Namun pada perkembangan selanjutnya, penangkapan
ikan mulai berevolusi menjadi masalah ketika kegiatan tersebut dilakukan secara
berlebihan (over).

Hampir semua orang
senang mengonsumsi ikan. Ikan adalah sumber protein terbaik dan juga makanan
yang sangat sehat dinilai dari kandungan nutrisinya. Dan laut, tentu saja
adalah sumber ikan terbaik dan terbesar yang ada di bumi. Hingga beberapa
dekade yang lalu laut di bumi dipenuhi oleh berbagai jenis ikan, berbeda dengan
kondisi laut di zaman sekarang yang semakin sedikit jumlah dan jenis ikannya. Hal
tersebut tentu saja terjadi karena adanya faktor-faktor penyebab, baik faktor alamiah
yang berasal dari lingkungan laut itu sendiri ataupun faktor non alamiah yang
disebabkan oleh perbuatan manusia.

Secara umum,
penyebab-penyebab terjadinya over fishing
dapat dikelompokkan menjadi tiga. Yang pertama adalah overcapacity atau kelebihan kapasitas. Kelebihan kapasitas yang
dimaksud disini adalah kapasitas dari fasilitas untuk menangkap ikan. Di seluruh
dunia, banyak industri perikanan yang memiliki kapal-kapal raksasa serta
peralatan dan teknologi canggih yang mereka gunakan untuk menangkap ikan di
lautan. Dengan fasilitas-fasilitas tersebut mereka bisa bertahan di lautan
selama beminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Para ahli bahkan mengatakan bahwa
jika seluruh fasilitas menangkap ikan di dunia digabungkan, fasilitas-fasilitas
tersebut  sudah cukup untuk digunakan menangkap
ikan di empat planet seperti bumi. Ketidak seimbangan antara jumlah alat dan
jumlah ikan inilah yang mengakibatkan over
fishing terjadi.

Faktor yang kedua adalah
unsustainable fishing atau penangkapan
ikan yang tidak berkelanjutan. Unsustainable
fishing ini melibatkan penggunaan jaring yang ukuran celah jaringnya
terlalu kecil, atau metode memancing dan peralatan lainnya yang menangkap
terlalu banyak ikan hingga mencapai tingkat yang hampir punah. Hal tersebut
mengakibatkan terjadinya bycatch,
yaitu tertangkapnya ikan-ikan dan biota-biota laut kecil yang tidak diinginkan
ketika memancing spesies ikan lain. Terkadang ikan dan biota laut yang tidak
diinginkan tersebut dilemparkan kembali ke laut (discard). Namun sebagain besar spesies non target yang dilepaskan
ini telah rusak atau terluka sehingga tidak mampu lagi bertahan hidup walau
telah dilepaskan. Terjadinya bycatch
dan discard pada ikan-ikan yang masih
kecil ini akan menyebabkan hanya sedikit dari spesies ikan tersebut yang bisa
bereproduksi, sehingga hanya sedikit populasi ikan yang bisa meneruskan
keturunannya.

Ketiga yaitu adanya
kebutuhan ekonomi dan pangan dari manusia. Jumlah ikan yang ditangkap oleh
industri semuanya tergantung pada permintaan pasar dan kebutuhan konsumen. Populasi
manusia di bumi telah mencapai hingga 7,6 milyar orang. Bertambahnya jumlah
manusia tentu berbanding lurus dengan kebutuhan akan makanan dan ikan. Hal ini
membuat industri perikanan berambisi untuk memperoleh keuntungan besar dengan
cara menangkap lebih banyak ikan dari kapasitas yang mampu dikembalikan oleh
lautan. Jumlah yang tidak seimbang inilah penyebab utama terjadinya over fishing. Jumlah manusia selalu
bertambah, sedangkan jumlah ikan semakin lama semakin berkurang.

Ketiga faktor ini semua
bermuara kepada manusia sebagai penyebab utama terjadinya over fishing. Overcapacity
dan unsustainable fishing terjadi
karena perbuatan manusia yang terjadi karena adanya kebutuhan ekonomi dan
kebutuhan manusia akan ikan. Dengan demikian, jelas bahwa manusia menjadi
pemeran utama yang menjadi kunci dari faktor-faktor penyebab terjadinya over fishing. Ketidakpastian hukum atau
kepentingan komersial di industri perikanan adalah contoh faktor-faktor lain yang
terjadi karena perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab.

Dampak terkait over fishing dapat diketahui melalui
penelusuran terhadap food chain
(rantai makanan) di ekosistem laut. Pada rantai makanan di ekosistem laut,
ikan-ikan dan mamalia laut besar atau predator buas seperti paus, hiu, ikan pari
dan lain sebagainya biasanya berada di puncak rantai makanan sebagai konsumen kuarter.
Ikan-ikan berukuran sedang seperti tuna, ikan kod, atau salmon menjadi konsumen
tersier yang memangsa konsumen primer berupa ikan-ikan atau organisme lainnya
yang berukuran lebih kecil seperti sarden, teri atau udang. Dibawahnya terdapat
zooplankton seperti moluska, serangga
dan beberapa jenis ikan kecil yang berperan sebagi konsumen primer, sedangkan phytoplankton yang memperoleh energi
dari sinar matahari, berfungsi sebagai produsen yang menjadi sumber energi
terbesar bagi organisme-organisme laut. Selain organisme-organisme laut di atas,
terdapat pula dekomposer yang menguraikan sisa-sisa organisme laut yang telah
mati menjadi ukuran yang lebih kecil agar dapat dimanfaatkan juga oleh phytoplankton. Disamping itu, jangan
lupakan posisi manusia yang secara tidak langsung berada di tingkat teratas pada
rantai makanan ekosistem laut sebagai konsumen tingkat tertinggi.

Berdasarkan hubungan
makan memakan pada rantai makanan di ekosistem laut yang dijelaskan di atas,
dapat bahwa masing-masing organisme laut saling mempengaruhi satu sama lain. Penangkapan
berlebih terhadap salah satu spesies dapat menimbulkan efek buruk pada
keanekaragaman hayati ekosistem laut. Setiap spesies di laut memiki perannya masing-masing
dalam menjaga keseimbangan ekologi. Untuk hidup dan berkembang, makhluk laut
memerlukan lingkungan dan nutrisi tertentu yang bergantung pada organisme
lainnya. Penangkapan berlebih akan merusak lingkungan dan ekologi laut,
sehingga dapat mengganggu jalannya rantai makanan. Sebagai contoh, teri adalah
spesies mangsa vital bagi tuna. Maka ketika ikan teri terlalu sedikit
jumlahnya, ikan tuna juga akan ikut menyusut populasinya akibat kekurangan
makanan. Dan hal yang sama juga berlaku bagi spesies lainnya. Sehingga dapat
dikatakan bahwa rusaknya rantai makanan akan memberikan efek berantai kepada
seluruh organisme yang terlibat dalam rantai makanan tersebut. Manusia sebagai konsumen
tingkat tertinggi tentu akan mendapatkan dampaknya juga.

Sangat mudah untuk
menebak dampak dari praktek over fishing
secara global, baik pada lingkungan maupun pada manusia. Dampak yang paling
jelas adalah, jika ini terus berlanjut maka tak akan ada lagi ikan untuk
manusia di masa yang akan datang. Jika manusia tidak bertindak lebih cepat dan
lebih tegas, food crisis diprediksi akan
terjadi beberapa dekade lagi. Namun selain krisis ikan, masih banyak lagi
dampak yang dapat ditimbulkan dari over
fishing, dimana beberapa diantaranya terkait dengan lingkungan.

Yang pertama adalah
dampak ekologis, yaitu kerusakan ekosistem. Penangkapan ikan secara berlebihan
dan tidak berkelanjutana (unsustainable)
merupakan ancaman terbesar bagi ekosistem laut. Praktek ini dapat menghancurkan
lingkungan fisik kehidupan biota laut dan mendistorsi (mengganggu) keseluruhan
rantai makanan di laut. Sebagaimana uraian di paragraf sebelumnya, jika satu
saja bagian dari sebuah rantai makanan di suatu ekosistem terganggu, maka akan
mempengaruhi seluruh organisme yang juga berada dalam rantai. Dampak ekologis
yang kedua adalah terganggunya biodiversitas (keanekaragaman hayati)  di ekosistem laut. Sebagai bagian terbesar
dari bumi, beraneka ragam spesies yang jumlahnya hingga jutaaan hidup di laut. Menangkap
suatu spesies secara terus menerus tidak hanya akan mengganggu rantai makanan,
namun juga akan membuat spesies tersebut punah. Yang ketiga adalah ghost fishing. Banyak kapal-kapal besar
yang tinggal selama berminggu-minggu di laut dalam melepaskan jaring mereka,
dan ada beberapa jaring yang terlepas ke dalam laut. Jaring yang terlepas ini
terus menjerat ikan di bawah air. Ikan-ikan yang terjerat akan mati, dan
peristiwa ini akan terus berlanjut hingga jaring tersebut rusak.

Selanjutnya yaitu dampak
sosial dan ekonomi. Banyak industri perikanan dari berbagai belahan dunia yang
terpaksa tutup akibat merosotnya populasi ikan di laut. Salah satu contohnya
adalah Grand Bank Cod Fisheries di
Kanada yang tutup karena hingga 75% stok ikan kod di daerahnya telah
tereksploitasi. Hal ini menunjukkan bahwa penangkapan ikan secara berlebihan
tidak menjamin suksesnya usaha, sebab cepat atau lambat, begitu ikan-ikan habis
maka investasi besar akan sia-sia, perusahaan merugi, dan orang-orang akan
kehilangan pekerjaan. Habisnya ikan juga akan menimbulkan terjadinya seafood crisis pada masyarakat di masa
yang akan datang. Menangkap ikan sebanyak mungkin mungkin terlihat sangat
menguntungkan, namun konsekuensi jangka panjangnya ternyata sangat serius. Tak hanya
berdampak pada ekosistem, namun juga pada kehidupan sosial ekonomi manusia.

Jika over fishing terus berlanjut, maka hal
ini akan menjadi ancaman terbesar bagi peradaban manusia. Populasi manusia akan
ikut hancur akibat kurangnya sumber makanan. Carl Safina, seorang penulis dan
aktivis lingkungan pernah berkata, “Jika manusia melakukan over fishing di puncak rantai makanan, dan mengasamkan (mencemari)
lautan di dasarnya, sama saja manusia menghancurkan seluruh sistem.” Spesies manusia
akan menjadi spesies pertama di bumi yang punah sebagai akibat langsung dari
tindakannya sendiri, dan ini akan menjadi pencapaian terbesar umat manusia.

Sejak bertahun-tahun
sebelumnya, sudah banyak tindakan yang ditujukan untuk mengendalikan over fishing, namun banyak diantaranya
yang belum berjalan dengan baik. Yang pertama adalah pembatasan dan penetapan
jumlah kuota. Kuota yang dimaksud disini adalah jumlah stok ikan yang diberikan
untuk industri dan perusahaan ikan yang terdaftar di wilayah masing-masing. Kebijakan
ini dilakukan untuk memastikan tidak ada pihak yang menangkap ikan lebih dari
kuota yang diberikan. Pihak yang melanggar akan diberikan hukuman. Tujuan dari
penetapan kuota ini adalah untuk mencegah over
fishing dan menjaga stok ikan yang langka. Selanjutnya adalah pembatasan
hari yang dibolehkan untuk menangkap ikan. Dengan cara ini, maka ikan-ikan akan
mempunyai hari atau waktu yang cukup untuk berkembang biak. Yang ketiga,
penetapan ­No Fishing Zone di
tempat-tempat tertentu untuk memulihkan populasi ikannya. Keempat, pembatasan
peralatan menangkap ikan tertentu. Alat-alat seperti racun, ranjau, pukat
harimau, atau jaring lainnya yang celahnya terlalu kecil dibatasi dan dilarang
penggunaannya untuk mencegah tertangkapnya spesies yang tidak diinginkan. Terlepas
dari segala upaya yang telah dilakukan di atas, masalah over fishing ini semakin lama semakin meningkat dan akan semakin
besar jika manusia tidak mulai berbuat lebih banyak. Banyak orang tidak
mengetahui tentang apa dan bagaimana over
fishing. Artinya, pemecahan masalah yang paling mendasar dan bisa dilakukan
kapan saja oleh siapa saja, adalah memberi info dan mengedukasi orang-orang
tentang isu over fishing. Yang kedua
adalah mencari alternatif sumber protein dari sumber lainnya. Baik itu dengan
cara menggantinya menangkap ikan dari perairan darat, mengonsumsi ayam, ikan,
daging, telur, kacang-kacangan, atau susu.

Adapun menurut pendapat
saya, menangkap ikan secara berlebihan sama saja dengan menunggak “utang
ekologis” terhadap ekosistem laut. Semakin banyak ikan yang ditangkap manusia,
semakin besar pula utang manusia kepada laut. Sebagian besar manusia hanya
memikirkan keuntungan ekonomis. Oleh karena itu menurut saya, solusi pemecahan
terhadap masalah ini adalah dengan mempertemukan antara kebutuhan pangan,
ekonomi, dan keberlangsungan lingkungan laut. Caranya yaitu mewajibkan setiap
industri perikanan untuk mengelola peternakan ikan (fish farming) di wilayah perairannya masing-masing. Jika dilakukan
dengan cara yang tepat, fish farming dapat
menjadi titik temu untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pangan, ekonomi, dan
keseimbangan ekosistem laut. Melalui fish
farming, industri-industri perikanan maupun para nelayan lokal dapat
memperoleh ikan dengan mudah secara terus
menerus, mereka juga tidak perlu berlayar hingga jauh ke laut dalam untuk
memperoleh ikan, sebab ikan-ikan yang akan ditangkap telah melimpah ruah di
area masing-masing. Lebih lanjut, harus dilakukan kontrol pasar dengan cara
melabeli setiap ikan yang beredar di pasaran. Label tersebut berisi data dari
ikan yang beredar, agar konsumen mengetahui dari mana ikan tersebut berasal. Melalui
fish farming, manusia dapat memulihkan
jumlah ikan yang telah banyak tereksploitasi. Membudidayakan ikan laut adalah
cara paling efektif bagi manusia untuk “membayar utang ekologisnya” kepada
lingkungan dan ekosistem laut. Biayanya mungkin tidak sedikit, namun utang
harus dibayar. Cepat atau lambat, manusia harus memulainya. Sekarang kembali
kepada diri masing-masing, siapkah kita melunasi utang pada sang samudera?

Categories: Articles

x

Hi!
I'm Iren!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out