Mewujudkan
Mimpi dengan Cara yang Berbeda

Sekarang
mari kita refleksikan tokoh-tokoh yang telah saya sebutkan diatas. Bila Turner mencetak imajinasinya ke dalam bentuk siaran
jaringan televisi CNN. Cerita berikut ini pun
merupakan wujud dari
kekuatan sebuah impian. Ketika berusia 14 tahun, Phil Knight bermimpi untuk menjadi pemain
sepak bola dalam sebuah liga besar. Sayang, mimpi itu harus pupus setelah ia
dikeluarkan dari tim sepakbola
di sekolah menengah
atas. Ia kemudian mengambil kelas bisnis di Stanford University.
Tugas dari Profesor Frank Shallenberger menjadi moment ‘aha!’
dalam perjalanan entrepreneurship-nya.

Sebenarnya, tugas yang diberikan tidaklah terlalu sulit. Hanya membuat sebuah rancangan bisnis,
menjelaskan
tujuannya, dan
menyusun rencana pemasaran dari bisnis
tersebut. Namun Knight
tak menganggap remeh tugas sang
Profesor. Ia menyalurkan
semangat dan mimpinya  yang  tertunda 
pada  makalah  tersebut. 
Makalah  yang  menjelaskan 
rencana  produksi
sepatu olahrga di Jepang,
karena upah buruhnya yang jauh lebih murah
daripada upah buruh di Jerman. Mungkin Anda bertanya, apa kaitan antara mimpi seorang Phil Knight dan sepatu olahraga?

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Di
Amerika, sepatu olahraga buatan Jerman paling diminati kendati harganya enam kali lipat lebih
mahal dari sepatu buatan
Amerika. Ia teringat dengan apa yang dikatakan oleh pelatih larinya, Bill Bowerman
yang sangat berharap agar produsen sepatu Jerman mengurangi 1 ons saja berat
sepatunya. Bowerman sangat yakin, berat sepatu mempengaruhi pencapaian para
atlet. Harapan itulah yang
melintas dalam benaknya,
menuangkannya ke dalam makalah, dan merealisasikannya
dengan terbang ke Jepang. November 1962,
Knight mendarat di Kobe dan sangat terkesan setelah melihat sepatu olahrga bermerek Tiger, yang desainnya meniru Adidas. Kualitasnya bagus dan harganya murah. Sulit menemukan sepatu seperti Tiger di
Amerika.

Sesampainya
di Amerika, Knight menemui Bowerman dan menyampaikan rencananya
untuk menjual
sepatu tersebut. Bowerman sangat
tertarik. Bukan hanya tertarik untuk membeli
sepatu-sepatu Knight, tetapi juga tertarik untuk menjadi mitra bisnisnya Knight.
Keduanya pun mulai melakukan pemesanan pertama sebanyak
300 pasang sepatu dengan
label Blue Ribbon Sports
dan terjual dalam waktu tiga minggu saja. Mereka berdua pun
meraup
keuntungan sebesar 3.240 dollar
AS dari hasil penjualan tersebut.
Bahkan di tahun 1969, mereka berhasil mencapai angka
penjualan sebesar 1 juta dollar AS.

Kesuksesan ini mengilhami
Bowerman untuk memproduksi sepatunya sendiri, dengan memutuskan kerja
sama mereka dengan importir. Sepatu itu diberi label Nike, yang diambil
dari nama dewi kemenangan
Yunani. Tahun
1972, Nike resmi diproduksi
di Meksiko dengan penghasilan mencapai 3,2 juta dollar
AS.
Nama Nike semakin melambung ketika Knight meminta
Michael Jordan menjadi bintang iklan produknya.
Knight tidak pernah
menyangka kecintaannya pada
dunia olahrga
telah mengantarkannya menuai kesuksesan yang luar biasa seperti sekarang. Tujuan utamanya memulai bisnis saat
itu bukan karena uang, hanya untuk membuat sepatu dengan kualitas terbaik bagi para Atlet. Bila kemudian ia
menjadi jutawan karena mimpinya ini, baginya itu adalah
sebuah bonus. Ya, seorang entrepreneur dituntut untuk memiliki mimpi. Bukan sekedar mimpi di siang bolong, melainkan mimpi yang
mampu membakar semangatnya, menggerakkan kemampuannya untuk
mewujudkan mimpinya
tersebut. Sama seperti yang dikatakan Sir Richard Branson, selama
kita
mengerjakan bisnis
dengan penuh rasa cinta,
uang akan datang dengan sendirinya.

Seperti
para tokoh-tokoh diatas, saya yakin Anda-pun memiliki impian! Saya yakin
Anda-pun sangat ingin meraihnya, merealisasikan dan mewujudkan impian yang
selama ini menjiwai diri Anda. Jhon C. Maxwell dalam salah satu bukunya Put
Your Dream to The Test: 10 Pertanyaan untuk Menolong Anda Melihat Impian dan
Meraihnya. Sebelum mengulas 10 pertanyaan tersebut, Jhon mengungkapkan
tentang pentingnya memahami terlebih dahulu arti dari impian, apakah sebenarnya
impian itu?.

 

Impian adalah gambaran inspiratif tentang
masa depan yang memberi kekuatan pada pikiran, keinginan, dan emosi Anda

-John C. Maxwell-

 

 

Inilah
gambaran mengenai definisi inpian menurut Jhon. Sebagai seorang pemimpin yang
telah melatih lebih dari 5 juta pemimpin dan praktisi bisnis diseluruh dunia,
Jhon menerapkannya pada setiap pemimpin yang dia latih. Dia menguji sendiri
tentang definisi impian yang telah dikemukakannya tersebut, kepada para
pemimpin dunia dan hampir semuanya mengungkapkan bahwa definisi tersebut lolos
dari pemimpin-pemimin dunia tersebut. Teman Jhon, Sharon Hull, menambahkan
seputar definisi impian, “Impian adalah bibit peluang yang ditanam dalam jiwa
manusia, yang akan memanggil pemiliknya untuk mencari jalur unik demi
mewujudkannya”.

Sebuah
mimpi yang pantas dan layak diburu adalah sebuah gambaran dan cetak biru dari
tujuan hidup dan potensi seseorang, tak terkecuali Anda sendiri. Yang saya
yakin saat ini-pun pasti memiliki impian yang ingin Anda wujudkan. Namun tidak
jarang banyak orang bermimpi yang akhirnya kemudian memilih tidak mewujudkan
impiannya lantaran dihancurkan orang lain!

Ketahuilah
dunia ini penuh dengan perusak mimpi dan pembunuh ide. Bisa Anda bayangkan saat
Thomas Alva Edison berhenti dengan percobannya yang ke 100, atau bahkan 1000,
lantaran karena ditertawakan idenya, mungkin sampai saat ini kita belum
menemukan bola lampu seperti telah kita nikmati sekarang. Bisa juga bila saat
itu Kolonel Sanders, pendiri dari Kentuky Fried Chiken (KFC), ditengah
usia pensiunnya yang sudah tidak muda lagi, dan cemoahan dari sesama teman
pensiuannya, serta berbagai penolakan yang ia alami saat menawarkan resep ayang
goreng miliknya ke beberapa restoran, dan dia memilih berhenti mewujudkan
mimpinya. Mungkin hari ini kita tidak mengenal Kentuky Fried Chiken (KFC) sebagai
jagonya ayang goreng. Sama juga sepertihalnya ketika Walk Disney memiliki
impian untuk mendirikan Disneyland, banyak orang yang menganggabnya gila! Coba
banyangkan, kalau semua orang berhenti atas mimpinya hanya karena “cemoohan”
orang lain yang tidak mengetahui sejatinya mimpi yang akan diwujudkannya, saya
yakin dunia ini tidak semenarik seperti sekarang.

Dunia
hanya berisikan 2 kategori orang utama, mereka adalah; si pemimpi dan si
realistis atau penikmat atas impian orang lain yang berani bermimpi. Robert
Orben, mengungkapkan “si realistis tahu tujuan mereka pergi, namun si pemimpi
telah sampai di tujuan”.

Saya
dan Anda saat ini adalah salah satu penikmat dari mimpi besar Thomas Alva
Edison, yang dengan kesungguhannya dalam memperjuangkan dan mewujudkan mimpinya
kita bisa menikmati hasil karyanya sampai sekarang. Namun bukan tidak mungkin
suatu saat Anda akan menjadi orang yang berjasa untuk orang lain atas impian
yang Anda wujudkan, seperti yang telah dilakukan Edison.

Dalam
kehidupan nyata, saya dan Anda pun pasti pernah mengalaminya, orang lain-pun
mungkin pernah menarik Anda dari impian Anda. Mereka menjadikan mimpi Anda
berhenti. Bisa jadi mereka mungkin membenci fakta bahwa Anda ingin melakkan hal
penting dalam meningkatkan kualitas hidup Anda. Bukan tidak mungkin juga mereka
kasihan terhadap Anda, mereka hawatir dan akhirnya melindungi Anda dari rasa
sakit dan kekecewaan. Maka ketika saat ini Anda mengalaminya, berbesar-hatilah
dalam menjalaninya. Karena tidak ada kata terlambat untuk mewujudkannya,
marilah kita wujudkan impian itu bersama-sama.

Karena
saya yakin, bahwa hadirnya kita di pentas dunia ini, bukan untuk menjadi
biasa-biasa saja. Bahkan dalam kitab suci al-Qur’an dikatakan “manusia adalah
sebaik-baiknya ummat”, yang bertugas mengemban mandataris Ilahiyah dari
Tuhan-Nya. Itulah misi besar mengapa manusia dihadirkan ke dunia ini. Oleh
sebab itu, mari kita uji dan wujudkan bersama impian-impian kita, impian untuk
menjadikan dunia ini menjadi lebih baik. John membanginya secara sistematif
menjadi 10 bagian yang terangkum dalam 10 pertanyaan utama seputar impian Anda,
dan bagaimana Anda mewujudkannya, antara lain adalah;

1.      
Pertanyaan kepemilikan; Apakah ini benar-benar impian saya?

2.      
Pertanyaan kejelasan; Apakah saya melihat impian saya dengan
jelas?

3.      
Pertanyaan kenyataan; Apakah untuk menggapai impian, saya
bergantung pada hal-hal yang dapat saya kendalikan?

4.      
Pertanyaan hasrat; Apakah impian saya mendorong saya untuk mengejarnya?

5.      
Pertanyaan jalan; Apakah saya memiliki strategi untuk mencapai impian?

6.      
Pertanyaan semasa; Apakah saya melibatkan orang-orang yang saya butuhkan untuk mewujudkan impian?

7.      
Pertanyaan harga; Bersediakah saya bayar harganya?

8.      
Pertanyaan kegigihan; Apakah saya bisa menikmati impian saya?

9.      
Pertanyaan pemenuhan; Apakah memperjuangkan impian memberikan saya kepuasan?

10.  
Pertanyaan kebermaknaan; apakah impian saya memberi manfaat bagi orang lain?

 

 

Bila Anda masuk akal dan memahami betul pertanyaan-pertanyaan diatas, dan jawabnya dengan jawaban yang kuat “ya”, maka saya percaya, impian anda semakin dekat. Itulah yang diyakini John, dia percaya setiap pemimpin dunia yang ia temui, hampir semua mengatakannya “ya”, jadi pula dengan para pebisnis yang lain. Selalu ingat, bukan masalah besar atau kecilnya impian anda, atau berapa banyak orang yang meremehkan impian anda, namun kuncinya adalah gigih anda mewujudkannya. Dan semakin banyak jawaban yang anda miliki semakin kebal anda menampik hal-hal negatif tersebut. Sampai Anda benar-benafr mewujudkan impian Anda.

Categories: Articles

x

Hi!
I'm Garrett!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out