Kesetaraan gender merupakan salah satu Tujuan Pembangunan

Published by admin on

Kesetaraan gender
merupakan salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang ditentukan
Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk dilaporkan oleh sekitar 40 negara dalam bentuk
Voluntary National Review (VNR). Di sebagian besar belahan dunia, termasuk di
negara-negara Muslim, perempuan secara umum mengalami keterasingan. Di banyak
negara dewasa, tidak ada jaminan kesetaraan gender antara perempuan dan
laki-laki dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan hukum.

Sejarah menunjukkan
bahwa perempuan pada masa awal Islâm mendapat penghargaan tinggi. Islâm
mengangkat harkat dan martabat perempuan dari posisi yang kurang beruntung pada
zaman jahiliyah. Di dalam kitab suci umat islam yaitu al-Qur’ân, persoalan
kesetaraan laki-laki dan perempuan ditegaskan secara eksplisit. Meskipun
demikian, masyarakat muslim secara umum tidak memandang laki-laki dan perempuan
sebagai setara. Akar mendalam yang mendasari penolakan dalam masyarakat muslim
adalah keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk Allâh yang lebih rendah karena
diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. ang kurang akalnya sehingga harus
selalu berada dalam bimbingan laki-laki. Akibatnya, produk-produk pemikiran
Islâm sering memosisikan perempuan sebagai subordinat. Kenyataan ini tentu
sangat memprihatinkan, karena Islâm pada prinsipnya menjunjung tinggi
kesetaraan dan tidak membedakan manusia berdasarkan jenis kelamin.

A.    Perumusan
Masalah

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1.      Apa
yang membedakan istilah gender dan sex?

2.      Bagaimana
pandangan tentang paham feminisme menurut islam?

3.      Bagaimana
kesetaraan gender yang sesungguhnya menurut islam?

B.     Tujuan
Penulisan

1.      Untuk
mengetahui perbedaan istilah gender dengan istilah sex.

2.      Untuk
mengetahui pandangan tentang paham feminisme menurut islam.

3.      Untuk
mengetahui konsep kesetaraan gender yang sesungguhnya menurut islam.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Istilah
Gender dan Sex

            Kata
gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (sex). Pada
awalnya kedua kata tersebut (gender dan sex) digunakan secara rancu. Sejak
dasawarsa terakhir di tengah maraknya gerakan feminis, kedua kata tersebut
didefinisikan secara berbeda. Perbedaan konseptual antara gender dan sex
mulamula diperkenalkan oleh Ann Oakley. Oleh karena itu, penulis akan
mengemukakan perbedaan definisi tersebut guna menghindari pemahaman yang
keliru.  Sex adalah pembagian jenis
kelamin yang ditentukan secara biologis melekat pada jenis kelamin tertentu, sementara
konsep gender adalah pembagian lelaki dan perempuan yang dikonstruksi secara
sosial maupun kultural. (Aunul, Hakim, 2011)

Perbedaan gender (gender differences) ini tidak menjadi
masalah krusial jika tidak melahirkan struktur ketidakadilan gender (gender inequalities). Akan tetapi pada
kenyataannya, perbedaan gender justru melahirkan struktur ketidakadilan dalam
berbagai bentuk: dominasi, marginalisasi dan diskriminasi. Pada kondisi inilah,
“kekuasaan laki-laki” mendominasi perempuan, bukan saja melanggengkan budaya
kekerasan, tetapi juga melahirkan rasionalitas sistem patriarki. Ideologi
patriarki adalah ideologi kelaki-lakian di mana laki-laki dianggap memiliki
kekuasaan superior. Ideology ini menimbulkan persoalan tentang tuntutan
kesetaraan, keadilan, dan penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap
perempuan. Usaha ini kemudian melahirkan sebuah kesadaran yang khas, yaitu
kesadaran feminisme.

B.     Feminisme
Menurut Ahli dan Islam

Menurut Kamla Bhasin
dan Nighat Said Khan, dua tokoh feminis dari Asia Selatan, tidak mudah untuk
merumuskan definisi feminisme oleh dan atau diterapkan kepada semua feminis
dalam semua waktu dan di semua tempat. Namun sudah seharusnya feminisme didefinisikan
secara jelas, luas dan juga tegas, agar tidak lagi terjadi kesalahpahaman,
bahkan ketakutan terhadap feminisme. Dengan asumsi ini maka keduanya mengajukan
definisi yang menurutnya memiliki pengertian yang lebih luas, yaitu: “Suatu
kesadaran akan penindasan dan pemerasan terhadap perempuan dalam masyarakat, di
tempat kerja dan dalam keluarga, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun
laki-laki untuk mengubah keadaan tersebut.” Jadi, gerakan feminisme adalah
suatu faham yang memperjuangkan kebebasan perempuan dari dominasi laki-laki. (Ilyas,
1997)

C.     Konsep
Kesetaraan Gender Menurut Islam

Dalam konteks
masyarakat Muslim, terdapat juga perbedaan pandangan mengenai kesetaraan
laki-laki dan perempuan. Terbukti dalam kitab-kitab klasik terdahulu yang
menjelaskan ajaran Islâm seperti tafsir, tidak asing kaum laki-laki digambarkan
lebih superior atau tinggi dari kaum perempuan. Dengan argumen penguatan
supremasi tersebut adalah QS. al-Nisâ. Seperti pada Tafsîr Ibn Katsîr (1985),
misalnya, ketika menjelaskan ayat tentang “laki-laki adalah pemimpin bagi
perempuan” menyebut ayat lain bahwa “bagi laki-laki derajatnya di atas
perempuan”. Seperti yang ditulis oleh Salman harun (1999), perempuan dianggap
sebagai makhluk yang tidak berharga, pada zaman jahiliyah, di antara
kabilah-kabilah Arab ada yang merasa hina sekali ketika memperoleh anak
perempuan, dan karena itu mereka segera mengubur bayi perempuan itu begitu
muncul ke dunia. Setelah Islâm datang, secara bertahap Islâm mengembalikan
hak-hak perempuan sebagai manusia merdeka, pada prinsipnya jika dilihat pada
konteks ketika perintah tersebut diturunkan, ini mencerminkan semangat keadilan
dan emansipasi wanita.

Walaupun al-Qur’ân
telah sukses mereformasi tradisi-tradisi jahiliyah yang diskriminatif dan eksploitatif
terhadap perempuan, namun bukan berarti seluruh ketentuan yang terdapat dalam
alQur’ân, khususnya ketentuan-ketentuan yang berkaitan dengan perempuan, sudah
final. Sepeninggal Rasulullah SAW, perempuan mukmin kembali mengalami eksklusi
dari ruang publik. Contoh paling awal dari eksklusi ini adalah pada masa
khalîfah Umar Ibn al-Khaththâb, sebagimana dijelaskan oleh Imam alGhazâli, kaum
perempuan tidak dianjurkan untuk mengikuti shalat jama’ah di masjid sebagaimana
yang berlaku pada masa Nabî. Hal ini mengindikasikan bahwa umat Islâm pasca
Rasulullah SAW tidak sepenuhnya berhasil menepis bias-bias patriarkisme yang
sudah terlanjur kuat mengakar dalam masyarakat Arab pra-Islâm, dan di
wilayah-wilayah di mana Islâm tersiar. (Agustina, 1995)

Banyak masyarakat
muslim meyakini bahwa tempat terbaik bagi perempuan adalah di dalam rumah, Ayat
yang menjadi landasan secara teologis adalah “Dan hendaklah kamu tetap tinggal
di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang
jahiliyah terdahulu…” (QS. al-Ahzâb (33): 33)

Dalam kapasitas manusia
sebagai hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan
yang dijadikan ukuran untuk memuliakan atau merendahkan derajat mereka hanyalah
nilai ketaqwaan dan juga keimannya. Al-Qur’ân menegaskan bahwa hamba yang
paling ideal ialah muttaqûn, sebagaimana disebutkan dalam firmanNya: ??? ???????? ???????? ?????? ?????????????
???? ?????? ?????????? ??????????????? ???????? ??????????? ????????????? ? ?????
???????????? ?????? ??????? ??????????? ? ????? ??????? ??????? ???????   “Hai
manusia, sesungguhnya kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan
seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya
kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di
sisi Allâh ialah orangyang paling bertaqwa diantara kalian. Sesungguhnya Allâh
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. alHujurât/49: 13).

Kedua, adalah fakta
bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan sebagai khalîfah. Jika dicermati,
Allâh Swt. sama sekali tidak menegaskan jenis kelamin seorang khalîfah. Jadi
dalam Islâm prinsip kesetaraan gender telah dikenal sejak zaman `azalî.
Lihatlah surah alBaqarah ayat 30 yang menegaskan: ?????? ????? ??????? ???????????????
?????? ??????? ??? ????????? ????????? ? ??????? ?????????? ?????? ???? ????????
?????? ?????????? ?????????? ???????? ????????? ?????????? ??????????? ???? ? ?????
?????? ???????? ??? ??? ??????????? “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang
khalîfah di muka bumi…” (QS. al-Baqarah/2: 30). Menurut Nasaruddin Umar, kata
khalîfah pada ayat di atas tidak menunjukkan kepada salah satu jenis kelamin
atau kelompok etnis tertentu. Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang
sama sebagai khalîfah, yang akan mempertanggung jawabkan kekhalîfahan-nya di
bumi, sebagaimana halnya mereka harus bertanggung jawab sebagai hamba Tuhan.

Ketiga, laki-laki dan
perempuan sama-sama mengemban amanah dan menerima perjanjian primordial dengan Tuhan,
sebagaimana disebutkan dalam firmannya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allâh mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankan Aku ini Tuhanmu?”
Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. Kami lakukan
yang “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini
(keesaan Tuhan).” (QS. al-A`râf (7): 172).

Keempat, prinsip
kesetaraan gender dalam kitab suci islam al-Qur’ân dapat dilihat pada kenyataan
antara Adam dan Hawa adalah aktor yang sama-sama aktif terlibat dalam drama
kosmis. Hal ini dapat dilihat dengan penggunaan kata ganti untuk dua orang
(humâ), yakni kata ganti untuk Adam dan Hawa. Seperti yang terdapat dalam ayat
berikut: ????? ?????????????? ???? ?????? ??????????? ?????? ?????????? ?????? ?????????????
?????? ????????????? ? ????? ?????? ???????????? ?????????? “Maka syaitan
membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya
telah merasai buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kenudian Tuhan mereka
menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu
dan Aku katakan kepadamu: “Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata
bagi kamu berdua.” (QS. al-A`râf (7): 22).

Kelima,
sejalan dengan prinsip kesetaraan, maka laki-laki maupun perempuan sama-sama
berhak meraih prestasi dalam kehidupannya. Seperti ditegaskan dalam ayat
berikut:  ???? ?????? ???????? ???? ??????
???? ???????? ?????? ???????? ????????????????? ??????? ????????? ? ???????????????????
?????????? ?????????? ??? ??????? ??????????? “Barang siapa yang mengerjakan
amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya
akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…” (QS. al-Nahl (16): 97).

Categories: Articles

x

Hi!
I'm Iren!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out